Gas Rumah Kaca

Gas Rumah Kaca

Gas rumah kaca merupakan kumpulan gas yang terdapat di atmosfer, yang memiliki kemampuan menyerap radiasi infra merah yang berasal dari radiasi terestrial, awan, atau dari atmosfer. Alaminya, keberadaan gas rumah kaca sangat penting untuk mempertahankan suhu bumi tetap hangat. Akan tetapi, jika konsentrasinya melebihi batas normal, gas-gas ini dapat menyebabkan terjadinya pemanasan di permukaan bumi yang berimbas pada kenaikan temperatur permukaan bumi.

Gas rumah kaca menyebabkan suatu fenomena yang disebut dengan efek rumah kaca. Di sebut rumah kaca karena proses pemanasan yang terjadi dapat dianalogikan dengan proses pemanasan pada rumah kaca pertanian yang ada pada daerah beriklim subtropis atau sedang.

efek-rumah-kaca

Apabila semakin banyak panas yang terperangkap di dalam atmosfer pada seluruh permukaan bumi, maka akibatnya atmosfer menjadi panas dan mengakibatkan terjadinya Pemanasan Global. Oleh karena itu, konsentrasi gas rumah kaca dijadikan indikator untuk terjadinya peristiwa ini.

Karena dampak merugikannya yang semakin terasa, maka pada Conference of Parties ke-3 di Kyoto pada tahun 1997, dibuatlah suatu pakta yang kemudian dikenal dengan nama Protokol Kyoto. Protokol ini mengisyaratkan bahwa negara-negara yang ikut meratifikasinya harus dapat mencapai persentasi emisi seperti yang telah ditetapkan dalam Lampiran B. Dalam lampiran tersebut, hanya Islandia (110%) dan Norwegia (101%) yang emisi gas rumah kacanya ‘diperbolehkan’ melebihi keadaan saat pakta ini ditetapkan, sementara negara-negara lainnya harus sama atau lebih rendah. Saat ini, hanya Amerika Serikat saja yang belum meratifikasi Protokol Kyoto.

Dalam Protokol Kyoto, ada enam gas rumah kaca yang dikategorikan berbahaya sehingga emisinya harus dapat dikendalikan. Keenam gas tersebut adalah karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrous oksida (N2O), sulfur heksafluorida (SF6), perfluorokarbon (PFC), dan hidrofluorokarbon (HFC). Selain keenam gas tersebut, ada beberapa gas lain yang juga dapat memberikan kontribusi pada pemanasan global, yaitu uap air (H2O) dan ozon troposferik (O3). Gas rumah kaca bersifat tidak reaktif (inert) dan memiliki waktu tinggal yang sangat lama di atmosfer (dapat mencapai ratusan tahun). Oleh karena itu, gas ini dapat bertahan sangat lama di atmosfer dan bersifat akumulatif sehingga efek rumah kaca yang diakibatkan akan sangat berbahaya jika emisinya tidak terkendali.

http://gawkototabang.com/data/gas-rumah-kaca/

Tentang raimawan

uchull
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s