Pengertian Kebudayaan – Budaya atau Kebudayaan adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuiakan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.

7 unsur kebudayaan – Kita tahu bahwa manusia sangat membutuhkan eksistensi didalam hidupnya. hal tersebut dapat ditinjau dari aspek – aspek yang ada pada sebuah kebudayaan diantaranya yaiu; strata sosial, pekerjaan, bahasa, kepercayaan, ilmu pengetahuan, teknologi serta kesenian. Masing-masing aspek tersebut mempunyai pengaruh satu dengan yang lainnya.
Strata sosial menurut saya merupakan pembagian kedudukan manusia didalam lingkungannya sesuai dengan keadaan masyarakat yang memandangnya. Secara general didalam masyarakat akan ditemukan perlakuan berbeda terhadap masing-masing manusia, itu adalah bentuk aturan yang ada dalam lingkungan dan merupakan bentuk dari adaptasi dengan begitu manusia akan diposisikan secara terlapis.
Pekerjaan menurut saya pekerjaan menentukan manusia menurut eksistensinya didalam lingkungan. Kecakapan manusia dalam bertindak dan bertolak ukur dalam mencapai kebutuhannya serta sikap akan menncapai keberhasilan sebuah sistem, hal itu terkait dengan penempatan unsur-unsur didalam sistem tersebut sesuai dengan bidang yang seharusnya.
Bahasa menurut saya kita dapat melihat suatu eksistensi dalam pengunaan bahasa. Pada lapisan masyarakat pengunaan intonasi atua logat serta redaksional yang berjenjang akan memperlihatkan latar belakang eksistensi manusianya sehingga dia dapat ditempatkan pada lapisannya serta manusia akan melakukan peran sosial yang sesuai dengan keberadaan eksisrensinya.
Kepercayaan menurut saya dapat dilihat secara jelas bahwa kepercayaan dapat menempatkan manusia pada eksistensinya didalam masyarakat. Tingkat pemahaman dogma serta nilai plagiat yang terdapat dalam alam pikirannya tentang nilai-nilai ajaran yang berasal dari kekuatan diluar manusia memunculkan atmosphir pada kualitas dirinya secara religi dan hal tersebut melapiskannya pada golongan yang semestinya.
Ilmu pengetahuan menurut saya akan membantu manusia dalam menemukan eksistensinya dan melapiskannya dalam kualitas masyarakat yang ada didalam lingkungannnya. Dengan pengetahuan manusia mencoba melakukan pembuktian serta mencari pembenaran versi dirinya dan mempublikasikan kepada masyarakat sehingga memunculkan idiom pada manusia lainnya.
Teknologi menurut saya teknologi dapat menemukan eksistensinya. Karena teknologi adalah hasil karya manusia yang memiliki keinginan untuk menciptakan sebuah karsa atau rasa. Hal itu bertujuan untuk mempermudah semua proses yang ingin dicapainya, namun demikian penciptaan yang dilakukan manusia lebih cenderung mengorban keberadaan lingkungannya, dalam arti memunculkan berbagai bentuk kekurangan yang ada dimuka bumi ini. Sikap dapat memgolah sumber daya dan memunculkan sesuatu yang belum dikenal oleh manusia lain akan mendatangkan bentuk eksistensi baru pada manusia tersebut
Kesenian kesenian dapat mendatangkan eksistensi pada manusia. Karena kesenian adalah sikap-sikap manis manusia yang diaktualisasikan dalam berntuk gerak yang tertata dengan seksama. Gerakan itu memunculkan hipnotis sehingga yang melihat menjaedi terkhasima serta kagum akan keindahannya. Kekaguman itu akan mengangkat nilai-nilai keberadaannya didalam lingkungan yang telah mengenalnya.

Wujud Kebudayaan

J. J Honigmann (dalam Koenjtaraningrat, 2000) membedakan adanya tiga ‘gejala kebudayaan’ : yaitu : (1) ideas, (2) activities, dan (3) artifact, dan ini diperjelas oleh Koenjtaraningrat yang mengistilahkannya dengan tiga wujud kebudayaan :

  1. Wujud kebudayaan sebagai suatu yang kompleks dari ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.
  2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat
  3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Mengenai wujud kebudayaan ini, Elly M.Setiadi dkk dalam Buku Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (2007:29-30) memberikan penjelasannya sebagai berikut :

1. Wujud Ide

Wujud tersebut menunjukann wujud ide dari kebudayaan, sifatnya abstrak, tak dapat diraba, dipegang ataupun difoto, dan tempatnya ada di alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup.

Budaya ideal mempunyai fungsi mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada tindakan, kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat sebagai sopan santun. Kebudayaan ideal ini bisa juga disebut adat istiadat.

2.  Wujud perilaku

Wujud tersebut dinamakan sistem sosial, karena menyangkut tindakan dan kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Wujud ini bisa diobservasi, difoto dan didokumentasikan karena dalam sistem ssosial ini terdapat aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi dan berhubungan serta bergaul satu dengan lainnya dalam masyarakat. Bersifat konkret dalam wujud perilaku dan bahasa.

3. Wujud Artefak

Wujud ini disebut juga kebudayaan fisik, dimana seluruhnya merupakan hasil fisik. Sifatnya paling konkret dan bisa diraba, dilihat dan didokumentasikan. Contohnya : candi, bangunan, baju, kain komputer dll.

Unsur Kebudayaan

Mengenai unsur kebudayaan, dalam bukunya pengantar Ilmu Antropologi, Koenjtaraningrat, mengambil sari dari berbagai kerangka yang disusun para sarjana Antropologi, mengemukakan bahwa ada tujuh unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia yang kemudian disebut unsur-unsur kebudayaan universal, antaralain :

  1. Bahasa
  2. Sistem Pengetahuan
  3. Organisasi Sosial
  4. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi
  5. Sistem Mata Pencaharian
  6. Sistem Religi
  7. Kesenian

Pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan

1.1. Latar Belakang Pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Islam dipengaruhi oleh akulturasi dengan kebudayaan setempat dan inkulturasi dengan budaya luar. Begitu juga di Indonesia. Pertemuan dengan Islam melalui jalan budaya, dan berlangsung merata di kalangan masyarakat, membuat proses asimilasi yang berlangsung meresap ke dalam jiwa dan memberi nafas pada para pemeluknya. Dan proses akulturasi tersebut masih dikatakan sebagai Kebudayaan Islam jika pengaruh tersebut tidak menyimpang dari prinsip-prinsip dasar Islam. Kegiatan seniman muslim Indonesia dwasa ini dalam bidang arsitektur, seni lukis, dan kaligrafi dan masih banyak lagi merupakan bagian dari dinamikan kebudayaan Islam di Indonesia sebagai warisan yang memberikan rasa bangga bagi umat Islam yang perlu dikembangkan dan dilestarikan. Kejayaan dan peninggalan- peninggalan kebudayaan Islam dalam bidang arsitektur dan seni perlu dijaga dan diperkenalkan kepada umat Islam sehingga dapat menambah wawasan umat islam dan memperluas cakrawala umat Islam tentang keanekaragaman kebudayaan Islam pada masa lampau dan pada akhirnya dapat terus dikembangkan dan dilestarikan. Yogyakarta merupakan kota budaya, dan kota pelajar. Sebagai kota sejarah dimana dulunya bekas kerajaan Mataram yang merupakan kerajaan Islam dan dengan segala potensi budaya dan kepariwisataannya, tentu Yogyakarta memiliki beragam kebudayaan yang pada hakikatnya juga merupakan kebudayaan Islam, dikarenakan latar belakang sejarah kota Yogyakarta itu sendiri. Yogyakarta sebagai kota pelajar didatangi oleh banyak orang yang menuntut ilmu dari segala penjuru daerah. Yogyakarta menjadi daerah tujuan wisata selain karena banyaknya peninggalan sejarah dan purbakala juga karena kehidupan masyarakatnya yang khas yang menjadikan daya tarik yang kuat. Bahkan kehidupan yang khas ini sering dijadikan sebagai barometer kehidupan yang tentram. Dengan beragamnya potensi kebudayaan Islam di Yogyakarta yang masih tersebar dan belum terkonsentrasi secara khusus, dibutuhkan suatu wadah yang dapat semakin mengangkat Yogyakarta sebagai kota budaya dan sekaligus berperan sebagai ide pariwisata religius. Dari awal mulai sejak jaman Nabi Muhammad SAW, penerangan dan pengkajian hal-hal yang menyangkut tentang Islam dan ajarannya disampaikan disuatu tempat yang menjadi pusat dari segala kegiatan yang bersifat islami, yaitu masjid. Sehingga pada masanya, masjd merupakan pusat kegiatan ibadah dan kegiatan kebudayaan. Perkembangan jaman menuntut dan menyebabkan terjadinya spesialisasi dalam segala bidang. Dalam hal inipun terjadi pada masjid, yang mana masjid kini berfungsi sebagai tempat ibadah saja sedangkan kegiatan lainna dilakukan diluar masjid. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan diluar masjid, walaupun masih tetap beada di dalam lingkungan masjd seringkali disebut dengan Pusat Syiar Agama (Islamic Centre). Untuk menampung kegiatan budaya secara Islami di Yogyakarta dan dibutuhkan suatu wadah Pusat Kebudayaan Islam. Bangunan Pusat Kebudayaan Islam dimaksudkan sebagai pusat untuk memperkenalkan, mempertunjukan dan mengkaji kebudayaan Islam yang dilakukan oleh seniman ataupun budayawan muslim maupun masyarakat luas. Dan tujuan dari Pusat Kebudayaan Islam adalah untuk memperkenalkan, mewariskan, mehngembangakan budaya Islam, menyampaikan pesan-pesan Islam yang universal, memperluas cakrawala pandang umat Islam mengenai keragaman, serta menanamkan spiritualitas kepada umat Islam. Pada saat ini wadah untuk menampung kegiatan keislaman berada di Islamic Centre (Pusat Syiar Agama). Pusat kebudayaan islam adalah pusat pengkajian dan pengenalan kebudayaan Islam. Antara agama dan kebudayaan adalah hal yang berbeda. Agama adalah produk dari Tuhan sedangkan kebudayaan adalah produk manusia. Dalam hal ini, Yogyakarta yang belum memiliki bangunan seperti tersebut diatas, memerlukan bangunan serupa tetapi dengan pendekatan yang berbeda, yaitu upaya syiar Islam dengan penanaman nilai-nilai Islam melalui jalur seni dan budaya. Menilik hal-hal tersebut diatas, kranya perlu dibuat bangunan yang mengkhususkan mengkaji dan memperkenalkan kebudayaan dalam hal ini yang bernafaskan Islam. Dan Pusat Kebudayaan Islam diharapkan mampu berperan secara aktif sebagai salah satu bagian dari potensi pariwisata di Kota Yogyakarta. 1.2. Maksud dan Tujuan Maksud 1) Merancng suatu bangunan Pusat Kebudayaan Islam sebagai wadah yang dapat meningkatkan apresiasi dan memperluas wawasan tentang kebudayaan Islam serta mewadahi kegiatan pengembangan kebudayaan Islam. 2) Membuat suatu bangunan representative dengan memperhatikan elemen visual yang mudah ditangkap dan disimpan dalam ingatan, serta memperhatikan penampilan (ekspresi / image) bangunan yang mencerminkan karakteristik / cirri kebudayaan Islam. Tujuan Tujuan yang hendak dicapai adalah tersusunnya langkah-langkah pokok untuk proses perencanaan dan perancangan Pusat Kebudayaan Islam di Yogyakarta berdasarkan aspek – aspek panduan perencanaan. 1.3. Lingkup Pembahasan 1) Pembahasan ditujukan tentang permasalahan kebudayaan Isalam yang perwujudannya terungkap dalam nilai-nilai arsitektural. 2) Lingkup pembahasan dititik beratkan pada kaidah-kaidah aristektural. 1.4. Metode Pembahasan Adapun metode yang digunakan dalam laporan penyusunan LP3a ini adalah metode deskriptif dan metode kausatif dokumentatif. 1) Deskriptif yang akan digunakan untuk menggali pustaka yang dapat dicapai sebagai pedoman untuk kemudian menjadi dasar dalam perencanaan dan perancangan Pusat Kebudayaan Islam di Yogyakarta. 2) Metoda kausikatif dokumentatif, digunakan dalam memperoleh data-data yang didapat dari survey dan dari nara sumber yang mengelola atau bertanggung jawab atas kegiatan yang memiliki karakteristik hampir sama dengan kasus Pusat Kebudayaan Islam di Yogyakarta. 1.5. Sistematika Pembahasan Sistematika pembahasan dalam laoran ini terdiri dari : BAB I PENDAHULUAN Berisi tentang latar belakang, maksud dan tujuan pembahasan, lingkup pembahasan, metode penyusunan, serta sistematika pembahasan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur. BAB II TINJAUAN UMU PUSAT KEBUDAYAAN ISLAM Di dalamnya terdapat uraian sekilas tentang sejarah kebudayaan Islam dan tempat-tempat yang memberikan gambaran akan peradaban dan kebudayaan Islam. Dijelaskan pula tentang pengertian Islam dan Kebudayaan, pengertian kebudayaan Islam serta unsure-unsur kebudayaan. Tinjauan tentang Pusat Kebudayaan Islam yang mencakup dasar, tujuan, karakteristik kegiatan di Pusat Kebudayaan Islam, dan hal-hal yang menjadi dasar dan berhubungan dalam perencanaan dan perancangan suatu Pusat Kebudayaan Islam. BAB III STUDI BANDING Berisi tentang studi banding dengan Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal Taman Mini Indonesia Indah sebagai Pusat Kebudayaan Islam di Jakarta, yang memuat tentang visi, misi, tujuan dan aktifitas sera fasilitas yang ada didalamnya. BAB IV TINJAUAN KOTA YOGYAKARTA Menguraikan hal-hal yang akan dijadikan acuan dalam perencanaan fisik dan non fisik dari lokasi dan tapak Pusat Kebudayaan Islam di Yogyakarta. BAB V BATASAN DAN ANGGAPAN Berisi tentang kesimpulan, batasan dan anggapan bagi pembahasan perencanaan Pusat Kebudayaan Islam di Yogyakarta. BAB VI PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR Berisi tentang pendekatan program yang meliputi aspek-aspek perencanaan, pendekatan standar untuk mendapatkan program ruang, pendekatan pemilihan lokasi dan tapak BAB VII PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Berisi tentang keputusan yang dirumuskan menjadi sebuah program dasar perencanaan dan perancangan. Pada bab ini diuraikan konsep dasar perancangan yang terdiri dari lokasi, tapak, jenis kegiatan, serta program ruang yang ditentukan dari hasil pendekatan sebelumnya.

NILAI DAN NORMA DLAM KEHIDUPAN MASYARAKAT

Dalam kehidupan sehari-hari manusia dalam berinteraksi dipandu oleh nilai-nilai dan dibatasi oleh norma-norma dalam social. Norma dan nilai pada awalnya lahir tidak disengaja , karena kebutuhan manusia sebagai makluk social dan harus berinteraksi dengan yang lain menuntut adanya suatu pedoman, pedoman itu lama kelamaan norma-norma tersebut dibuat secara sadar.

Rumusan tentang norma dan nilai menurut para tokoh pada dasarnya sama. Penulis pada kesempatan ini akan memrumuskan pengertian norma dan nilai social sebagai berikut :

Nilai sosial adalah suatu perbuatan atau tindakan yang oleh masyarakat dianggap baik. Nilai social dalam setiap masyarakat tidak selalu sama, karena nilai dimasyarakat tertentu dianggap baik tapi dapat dianggap tidak baik dimasyarakat lain.

Nilai dapat dibagai menjadi tiga bagian yaitu :

  1. Nilai material artinya segala sesuatu  yang berguna bagi manusia.
  2. Nilai vital artinya segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat melakukan aktivitas atau kegiatan.
  3. Nilai kerohanian artinya  segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia

Nilai kerohanian ini dibagi menjadi empat macam yaitu :

    1. nilai kebenaran/keyakinan  yaitu nilai yang bersumber dari akal manusia
    2. nilai keindahan yaitu nilai yang bersumber dari  unsur rasa manusia (perasaan atau estetika)
    3. nilai moral/kebaikan yaitu nilai yang bersumber dari unsur kehendak /kemauan(karsa,etika)
    4. nilai relegius yaitu nilai yang bersumber dari kekyakinan atau kepercayaan manusia, yang merupakan nilai kebutuhan kerohanian yang tinggi dan mutlak

Fungsi dari nilai social

Secara umum nilai social mempunyai fungsi sebagai berikut :

  1. Nilai berfungsi sebagai petunjuk arah
  2. Nilai berfungsi sebagai pemersatu yang dapat mengumpulkan orang banyak dalam kesatuan atau kelaompook tertentu atau masyarakat.
  3. Nilai social berfungsi sebagai pengawasa dengan daya tekan dan pengikat tertentu
  4. Nilai berfungsi senbagai benteng perlindungan
  5. Nilai berfungsi sebagai alat pendorong atau motivator

Norma social adalah suatu petunjuk hidup yang berisi larangan maupun perintah.

Yang membedakan nilai dan norma adalah nilai merupakan sesuatu yang baik, diinginkan, dicita-citakan dan dipentingkan oleh masyarakat . Sedangkan norma adalah kaidah atau pedoman , aturan berperilaku untuk mewujudkan keinginan dan cita-cita tersebut , atau boleh dikatakan nilai adalah pola yang diinginkan sedangkan norma adalah pedomana atau cara-cara untuk mencapai nilai tersebut.

Menurut kekuatan yang mengikatnya, norma dibedakan menjadi empat yaitu

  1. Cara (usage) ; cara ini menunjuk pada bentuk perbuatan . cara ini  lebih tamapak menonjol dalam hubungan antar individudalam masyrakat. Pelanggaran atau penyimpangan terhadap usage tidak menimbulkan sanksi hukum yang berat tapi hanya sekedar celaan, cemohoon, sindiran, ejekan dsb.
  2. Kebiasaan (folkways) yaitu perbuatan yang berulang-ulang dalam bentuk yang sama  dan merupakan bukti bahwa orang banyak menyukai perbuatan tersebut.
  3. Tata kelakuan (mors) yaitu  kebiasaan yang diterima sebagai norma pengatur, atau pengawas secara sadar maupun tidak sadar oleh masyarakat terhadap anggota-anggotanya.
  4. adapt-istiadat (custum)  yaitu tata kelakuan yang kekal serta kuat integrasinya dengan pola perilaku masyarakat. Anggota masyarakat yang melanggaradat-istiadat akan mendapat sanksi keras yang terkadang secara tidak langsung  diperlukan.

Fungsi norma social dalam masyarakat.

Fungsi norma social dalam masyarakat secara umum sebagai berikut :

  1. Norma merupakan factor perilaku dalam kelompok tertentu yang memungkinkan seseorang untuk menentukan terlebih dahulu bagaimana tindakan akan dinilai orang lain.
  2. Norma merupakan aturan , pedoman, atau petunjuak hidup dengan sanksi-sanksi untuk mendorong seseorang, kelompok , dan masyarakat mencapai dan mewujudkan nilai-nilai social
  3. Norma-norma merupaakan aturan-aturan yang tumbuh dan dan hidup dalam masyarakat sebagai unsur pengikat dan pengendali manusia dalam hidup masyarakat..

Contih norma
a. Norma Agama : Ialah peraturan hidup yang harus diterima manusia sebagai perintah-perintah, laranganlarangan dan ajaran-ajaran yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Pelanggaran terhadap norma ini akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Esa berupa “siksa” kelak di akhirat. Contoh norma agama ini diantaranya ialah:
a) “Kamu dilarang membunuh”.
b) “Kamu dilarang mencuri”.
c) “Kamu harus patuh kepada orang tua”.
d) “Kamu harus beribadah”.
e) “Kamu jangan menipu”.
b. Norma Kesusilaan : Ialah peraturan hidup yang berasal dari suara hati sanubari manusia. Pelanggaran norma kesusilaan ialah pelanggaran perasaan yang berakibat penyesalan. Norma kesusilaan bersifat umum dan universal, dapat diterima oleh seluruh umat manusia. Contoh norma ini diantaranya ialah :
a) “Kamu tidak boleh mencuri milik orang lain”.
b) “Kamu harus berlaku jujur”.
c) “Kamu harus berbuat baik terhadap sesama manusia”.
d) “Kamu dilarang membunuh sesama manusia”.
c. Norma Kesopanan : Ialah norma yang timbul dan diadakan oleh masyarakat itu sendiri untuk mengatur pergaulan sehingga masing-masing anggota masyarakat saling hormat menghormati. Akibat dari pelanggaran terhadap norma ini ialah dicela sesamanya, karena sumber norma ini adalah keyakinan masyarakat yang bersangkutan itu sendiri.
Hakikat norma kesopanan adalah kepantasan, kepatutan, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Norma kesopanan sering disebut sopan santun, tata krama atau adat istiadat.
Norma kesopanan tidak berlaku bagi seluruh masyarakat dunia, melainkan bersifat khusus dan setempat (regional) dan hanya berlaku bagi segolongan masyarakat tertentu saja. Apa yang dianggap sopan bagi segolongan masyarakat, mungkin bagi masyarakat lain tidak demikian. Contoh norma ini diantaranya ialah :
a) “Berilah  tempat  terlebih  dahulu   kepada   wanita   di dalam   kereta  api,  bus   dan  lain-lain, terutama wanita yang tua, hamil atau

membawa  bayi”.
b) “Jangan makan sambil berbicara”.
c) “Janganlah meludah di lantai atau di sembarang tempat” dan.
d) “Orang muda harus menghormati orang yang lebih tua”.

Kebiasaan merupakan norma yang keberadaannya dalam masyarakat diterima sebagai aturan yang mengikat walaupun tidak ditetapkan oleh pemerintah. Kebiasaan adalah tingkah laku dalam masyarakat yang dilakukan berulangulangmengenai sesuatu hal yang sama, yang dianggap sebagai aturan hidup . Kebiasaan dalam masyarakat sering disamakan dengan adat istiadat.

Adat istiadat adalah kebiasaan-kebiasaan sosial yang sejak lama ada dalam masyarakat dengan maksudmengatur tata tertib. Ada pula yang menganggap adat istiadat sebagai peraturan sopan santun yang turun temurun Pada umumnya adat istiadat merupakan tradisi. Adat bersumber pada sesuatu yang suci (sakral) dan berhubungan dengan tradisi rakyat yang telah turun temurun, sedangkan kebiasaan tidak merupakan tradisi rakyat.
d. Norma Hukum : Ialah peraturan-peraturan yang timbul dan dibuat oleh lembaga kekuasaan negara. Isinya mengikat setiap orang dan pelaksanaanya dapat dipertahankan dengan segala paksaan oleh alat-alat negara, sumbernya bisa berupa peraturan perundangundangan, yurisprudensi, kebiasaan, doktrin, dan agama. Keistimewaan norma hukum terletak pada sifatnya yang memaksa, sanksinya berupa ancaman hukuman. Penataan dan sanksi terhadap pelanggaran peraturan-peraturan hukum bersifat heteronom, artinya dapat dipaksakan oleh kekuasaan dari luar, yaitu kekuasaan negara. Contoh norma ini diantaranya ialah :
a) “Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa/nyawa orang lain, dihukum karena membunuh dengan hukuman setingi-tingginya 15 tahun”.
b) “Orang yang ingkar janji suatu perikatan yang telah diadakan, diwajibkan mengganti kerugian”, misalnya jual beli.
c) “Dilarang mengganggu ketertiban umum”.

Hukum biasanya dituangkan dalam bentuk peraturan yang tertulis, atau disebut juga perundang-undangan. Perundang-undangan baik yang sifatnya nasional maupun peraturan daerah dibuat oleh lembaga formal yang diberi kewenangan untuk membuatnys.Oleh karena itu,norma hukum sangat mengikat bagi warga negara.

Dr. Koentjaraningrat  membagi lembaga sosial/pranata-pranata kemasyarakatan menjadi 8 macam  yaitu :

  1. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan kehidupan kekerabatan atau domestic institutions
  2. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk mata pencaharian hidup ( economic institutions)
  3. Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ilmiah manusia (scientific institution)
  4. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan pendidikan (educational institutions)
  5. Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ilmiah, menyatakan rasa keindahan dan rekreasi (aesthetic anda recreational institutions)
  6. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan Tuhan atau alam gaib (religius institutions)
  7. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk mengatur kehidupan berkelompok atau bernegara (political institutios)
  8. Pranata yang bertujuan mengurus kebutuhan jasmaniah manusia (cosmetic institutions)

Tentang raimawan

uchull
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s